Adaptasi baru oleh pekerja bidang personalia sekaligus pencari passion ditengah pandemi melalui buku-buku dan perjalananku.
“Baik mbak, silahkan ceritakan
tentang diri anda?”. Tanyaku.
“Baik Pak, Nama saya Putri. Saya
berniat untuk melamar sebagai posisi ……”. Kandidat tersebut menceritakan
dirinya dengan antusias. Harapan untuk bisa mendapatkan bekerja tampak jelas
terpancar dari matanya. Gerak tangannya yang tegas seakan meminta kami untuk
mengulurkan tangan atau memberikan kontrak kerja. Saya pun dengan cermat
mencoba melakukan kontak mata dan mengamatinya dengan cermat.
Itulah percakapan yang selalu
terjadi di tengah aktifitas saya selama menjadi HRD. Ya, sebelum pandemi dan
selama setahun pandemi kemarin saya masih menjadi Staff HR-GA di salah satu lembaga
bimbingan belajar.
Nama saya Deddy Perdana Bakti.
Seorang lulusan dari Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah
Surakarta tahun 2017. Pengalaman menjadi HRD tentunya akan selalu mengesankan
bagi saya. Selain penasaran dengan pekerjaan sebagai orang yang menyeleksi para
pencari kerja, ternyata menjadi HRD sangatlah menarik dari segi komunikasi dan sosialisasi
menurut saya pribadi.
Menariknya adalah setiap kita
bertemu dengan orang baru atau karakter baru, tentu selalu ada pembelajaran
yang didapatkan. Seterusnya, memutuskan untuk beberapa orang bisa mendapatkan
pekerjaan tentunya juga hal yang bisa menyirami batin kita sebagai HRD.
Kita tau bagaimana susahnya
mencari pekerjaan. Apalagi ditengah terpuruknya ekonomi akibat pandemi sekarang
ini. Saya yakin banyak orang mungkin merasakan pengalaman tersebut ketika fresh-graduate,
belum mempunyai banyak pengalaman di lapangan kehidupan. Termasuk saya sendiri.
Tidak pernah terbayangkan oleh saya sendiri untuk bisa bekerja sebagai HRD
dengan latar belakang Sarjana Pendidikan. Seperti yang kita tau, kebanyakan
posisi tersebut diisi oleh lulusan dari bidang Hukum, Psikologi atau Manajemen.
Berdasarkan hal tersebut, saya
tentunya sangat menghargai pekerjaan ini. Memang benar, ketika seseorang suka
terhadap suatu hal, maka dia akan merasa bahagia walaupun banyak tantangan
untuk mendapatkan atau menjalaninya.
Berbicara tentang tantangan.
Selama menjadi HRD, bisa dikatakan pekerjaan saya adalah salah satu pekerjaan
yang menguras pikiran dan tenaga. Bukan apa, karena disitu saya selain dituntut
untuk bekerja atau siap 24 jam mengenai karyawan dan operasional. ditambah
sedang bertumbuhnya perusahaan yang mempunyai banyak cabang membuat saya dituntut
untuk sering berpindah kota ke cabang-cabang tersebut.
Beruntung disini saya belajar
bagaimana rasanya tabah. Hal ini membuat saya teringat akan saalah satu buku
yang saya baca mengenai tabah. Buku itu adalah GRIT, ditulis oleh Angela
Duckworth. Kemudian diterjemahkan dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Beliau
menyatakan bahwa rahasia untuk pencapaian yang luar biasa bukanlah bakat,
tetapi perpaduan istimewa antara hasrat (passion) dan kegigihan (perseverance)
yang Angel Duckworth sebut sebagai ketabahan.
Salah satu poin penting dalam
buku itu layaknya air ketika saya haus, penyemangat ketika lelah dalam
pekerjaan. Semuanya berjalan baik dan sesuai rencana sampai di awal bulan Maret
2020. Ketika saya masih ditugaskan untuk membantu pembukaan cabang baru di Kota
Palembang.
Salah satu stasiun televisi di
tempat saya bekerja waktu itu memberitakan tentang suatu virus yang merebak di
China. Sekarang sudah masuk ke Indonesia, menurut informasi dari news anchor
berita tersebut, ada 2 orang warga Depok yang terpapar. Respon saya waktu itu
tentunya sedikit was-was, karena hal ini baru saya alami sepanjang hidup saya,
bahkan mungkin sebagian besar manusia. Tetapi hidup tetap berlanjut, mengikuti
anjuran dari pemerintah yang mengeluarkan beberapa statement yang kita
temui kurang tepat pada akhirnya.
Tanpa terprediksi, virus tersebut
mengguncang dunia. Semua heboh. Semua panik. Semua berusaha untuk menutup diri
dari kemungkinan terpapar virus tersebut. Bahkan ada negara yang sampai melakukan
lockdown. Membatasi wilayah dari orang yang masuk ataupun keluar dari
daerah itu singkatnya. Indonesia? Beberapa orang penting menyarankan hal
tersebut, tetapi pemerintah tak melakukannya waktu itu. Sebagai solusi,
munculah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang dianggap bisa menjadi
solusi untuk tetap aman dan ekomoni masih bisa berjalan.
Kehebohan ini tentunya membuat
saya agak khawatir. Ketika itu saya sedang berada di Palembang dan tugas belum
selesai, malah baru dimulai. Apalagi kabar tentang orang-orang yang mulai
membeli banyak kebutuhan pokok dan yang paling wajib waktu itu, masker.
Lonjakan harga masker saya alami waktu itu, masker yang satunya seribu sampai
dua ribu berubah menjadi lima ribu persatuannya. Yasudahlah, mau gimana lagi. Sehat
itu mahal, pemikiran saya waktu itu.
Akhirnya tugas di Palembang
hampir selesai. Saya bergegas untuk segera mencari tiket pulang ke Jakarta.
Agak sedikit was-was mengingat Jakarta adalah kota pertama yang menjadi
persebaran waktu itu. Lebih cemas lagi bagaimana jika penerbangan antar kota
tidak boleh waktu itu. Kalau terpaksa harus stay di Palembang dulu rasanya akan
sangat panjang. Tidak ada satupun sanak saudara dan pertama kalinya saya berada
di kota orang di luar pulau Jawa.
Singkat cerita, sampailah pada
hari saya berangkat ke Bandara Sultan Ahmad Badaruddin II untuk pulang ke
Jakarta. Tak lupa untuk melaporkan pekerjaan di Palembang yang sudah selesai ke
atasan. Tidak seperti perpindahan saya ke kota-kota sebelumnya. Kali ini
berbeda. Seperti prajurit perang, saya selalu berhati-hati dan was-was akan
keadaan sekitar.
Perintah mencuci tangan, memakai
masker, dan menjaga jarak membuat diri saya selalu was-was dengan keadaan
bahkan manusia sekitar. Memakai masker yang sebetulnya sangat baik tentunya
akan berbeda bagi orang yang belum terbiasa. Hidung dan mulut yang agak pengap,
beratnya nafas seakan kepala kita memakai zirah pelindung kepala. Sentuhan dari
orang lain bahkan seperti hunusan pedang yang harus kita bersihkan lukanya.
Dengan mengucap syukur. Pesawat
Batik Air mendarat dengan selamat di Bandara Halim Perdana Kusuma. Walaupun
diatas awan, mendung dan hujan lebat mengguyur. Pesawat harus menunggu lampu
hijau untuk pendaratan. Mungkin dikarenakan masih tebalnya air di landasan
udara. Hal ini seolah sebagai sambutan akan gelap yang akan ditemui ketika mendarat
di Ibu Kota tercinta yang sedang demam karena Corona.
Ketika di Jakarta, adaptasi baru
pun dimulai. Semua orang mematuhi protokol kesehatan yang digalakan. Bahkan,
sempat kita melihat wajah Indonesia sebenarnya ketika masyarakat saling
bahu-membahu memberikan bantuan makanan kepada mereka yang terkena dampak
dibatasinya aktifitas dan kreatifitas.
Dari Kerjasama it, sebenarnya
kita diingatkan bahwa masyarakat Indonesia berjiwa patriot dan gotong ronyong.
Sayangnya, hal ini tidak dijaga oleh pemerintah maupun pihak yang berwenang. Lambat
laun, masyarakat dibuat bingung oleh peraturang yang berubah-ubah. Hal ini
dianggap sebagai blunder oleh masyarakat yang akhirnya membuat mereka menjadi
acuh akan keadaan. Rasanya akan begitu rumit untuk mengatasi hal ini.
Saya coba lanjutkan ke cerita
saya dulu saja. Hehe.
Ketika itu, saya yang bekerja
sebagai HRD tentu harus menyesuaikan beberapa kebijakan baik dalam hal
rekrutmen atau cara kerja semua unsur perusahaan. Kegiatan elementer seperti
rekrutmen dilakukan tanpa tatap muka alias online. Ya, hal ini tentunya
membutuhkan ketelitian ekstra karena ketika online, insting sebagai HRD untuk
melihat gerak-gerik dan sikap kandidat agak sedikit tertutupi. Selanjutnya,
bekerja yang kita tau selalu membutuhkan komunikasi dan Kerjasama langsung
ternyata perlahan dialihkan secara online untuk menghindari kontak fisik. WFH
begitulah istilah bekennya.
Seiring waktu, ternyata pandemic
covid-19 tidak bisa dianggap remeh. Bukan karena penyakitnya yang bisa menyebar
cepat, melainkan dari sisi elementer seperti ekonomi ternyata juga sangat
terpukul. Santer terdengar waktu itu, banyak perusahaan besar yang memangkas
para pekerjanya, merumahkan, bebas tugas, dan istilah lainnya. Sayangnya banyak
juga yang tidak bisa bertahan alias collapse. Bangkrut. Ya, karena
pemasukan perusahaan yang surut.
Problem tersebut tidak hanya
sebagai bahan berita yang habis dibaca dan direnungkan saja. Pengurangan
pegawai juga mengetuk pintu perusahaan saya waktu itu. Ya, perusahaan kami
memang berjalan dengan sistem offline. Pengajar dan siswa bertemu langsung.
Saat itu, kita harus adaptasi. Adaptasi pertemuan waktu itu adalah dengan video
conference yang kita tau banyak platformnya.
Tidak adanya kegiatan belajar
mengajar ditambah terdampaknya kondisi ekonomi pada penduduk usia produktif
tentunya juga sampai getahnya ke pemasukan financial bagi perusahaan kami.
Alih-alih untuk melebarkan sayap, keuangan nampaknya harus dipakai untuk
rencana lain atau sebagai pertahanan beberapa bulan kedepan. Maka layar kapal
pun segera berputar arah.
Adaptasi akan digitalisasi pun
digaungkan mengingat hanya dengan cara itu kegiatan bisa dilakukan. Apalagi
untuk perusahaan bimbel start-up macam perusahaan kami. Digitalisasi dan
membuat aplikasi pembelajaran online, itulah salah satu way-out. Sisanya,
keuangan seyogyanya untuk menjamin pembayaran gaji ke karyawan beberapa bulan
kedepan atau bahkan tahun. Semua tidak tau kapan pandemi akan berakhir.
Hal tersebut tentunya membuat
perusahaan melakukan evaluasi lanjutan. Saat itu karyawan kami ada sekitar
seratus enam puluhan. Banyak untuk ukuran start-up. Jika semua bertahan, tidak
bisa kami bertahan panjang. Nafas akan pendek, atau kalau pun panjang akan
penuh sesak. Palu diketok, kami juga harus melakukan pengurangan. Seketika saya
sebagai HRD menjadi tombak utama untuk ini. “Oh tidak”, batinku.
Mungkin bagi beberapa orang, HRD
adalah momok yang menyebalkan dan sedikit banyak PHP dalam dunia pekerjaan. Ya,
karena banyak pekerjaan selain rekrutmen yang harus kami kerjakan. Rekrutmen
juga tidak mungkin semua kandidat kita rekrut. Maka, tolong beri pengertian
kawan. Kalau kita kadang terlewat membalas pesan, disitu ada puluhan atau
ratusan pesan yang jawabannya sudah dilampirkan atau urusan yang harus kami
selesaikan. Ketika kawan tidak dipanggil untuk proses lanjutan, mungkin kawan
belum cocok dibeberapa kualifikasi dan kami harus mencari kandidat yang
terbatas sesuai dengan kebijakan perusahaan.
Tetapi karena pandemic covid-19
ini, ketika banyak pejuang karir sudah kami rekrut, kali ini kami dipaksa
tunduk akan keadaan dengan mengurangi, merumahkan dan membebastugaskan. Semua
itu pada akhirnya bermuara ke satu titik yaitu pemutusan hubungan karyawan.
Ketika kalian menemukan kawan yang berjuang, tertawa, berseberangan suara,
membangun bersama dalam dunia kerja. Kemudian keadaan berbalik, tawa dan
perjuangan itu terpaksa harus disenyapkan mungkin hanya meninggalkan kenangan.
Rumah yang kami bangun bersama satu per satu harus kami rubuhkan untuk
kebaikan.
Hal tersulit dari ini pada
awalnya adalah ketika menyampaikan. Saya sebagai HRD itu harus tegas dan ambil
keputusan. Mungkin dibeberapa kondisi, ada yang menganggap kami kejam. Tapi
jangan lupa. Kami juga tidak mau hal ini kejadian. Semua serba cepat berubah, pandemi
yang tidak bisa kita persiapkan. Ketika waktu penyampaian, kawan bisa bayangkan
bagaimana mulut yang kelu ketika awal percakapan. Jika kawan pernah mengalami
ini waktu mau nembak cewek idaman, awalnya saya berpikir ini akan berbeda.
Ketika nembak pasti ada kemungkinan untuk cewek menerima. Ketika pengurangan,
mulanya saya pikir banyak yang tidak akan menerima.
Realitanya, ketika bicara,
mungkin suara agak terbata-bata. Ditambah melihat mata dan wajah para karyawan
yang penuh kecemasan dan rasa penasaran. Bagaimana tidak? Ketika HRD mengadakan
meeting dadakan tanpa topik yang dirincikan. Kalau membahas pembelajaran, akan
sangat mudah kita menampilan temanya di undangan zoom meeting. Kalau
pengurangan? nampaknya itu akan menjadi hujan petir sebelum badai topan. Maka
tak khayal, bila hal ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kecemasan.
Pada akhirnya, semua harus
diselesaikan, kalimat demi kalimat diucapkan. Tiba saat ketika informasi bahwa
mereka dirumahkan. Tampak mata beberapa dari mereka yang nanar. Kepala
tertunduk sejenak. Ada yang diam memikirkan, bagaimana pendapatan kedepan.
Beberapa ku dengar yang menghela nafas tanda kaget sekaligus mengumpulan
kesabaran. Entah ini jalan Tuhan atau kebetulan, mereka bisa menerima walau
sempat tergoyahkan. Nampaknya, teman-teman saya waktu itu paham. Semua masih
dalam keadaan sulit. Sepertinya mereka sudah siap, karena sebelum itu, berita
tentang PHK massal memang sudah bertebaran.
Dari sejak itu, kami pun mulai
terbiasa untuk merumahkan. Rasanya aneh, seharusnya hal ini selalu menyakitkan
karena HRD juga manusia. Tetapi hal itu seiring waktu menjadi biasa saja,
mungkin karena memang sudah menjadi kebiasaan atau memang keadaan yang sudah
bisa mempersilahkan. Bagaimana lagi? Pandemi memang tidak ada yang
memprediksikan, tidak terpikirkan akan seburuk itu dunia dibalikan.
Kejadian ini tentu akan menjadi
pelajaran dalam berbagai sisi. Banyak hal yang mungkin datang tanpa permisi.
Manusia walaupun kecewa masih akan tetap menjunjung rasa kemanusiannya demi
kebaikan. Menjadi HRD tidak selamanya menyenangkan dan tanpa beban, kita juga
manusia yang masih punya rasa kasihan dan setia kawan. Dan yang paling penting
untuk kedepannya, digitalisasi menjadi nyata yang harus kita hadapi. Jaman
sudah jauh berjalan. Dari pandemi ini, era baru dimulai. Era yang menjunjung
tinggi efektivitas. Banyak tantangan yang bisa diselesaikan dengan kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi tanpa banyak orang.
Perubahan yang dialami dunia ini
tentunya mewujudkan beberapa tren-tren baru dalam kehidupan manusia. Dari segi
dunia kerja, tentu kita melihat bagaimana perusahaan menemukan cara efektifnya.
Hal ini mengarah ke pergeseran cara penjualan dan kecenderungan manusia yang
menjadi berorientasi pada konten digital. Hasil dikurung selama satu tahun
lebih ini.
Dunia digital sudah menjadi salah
satu cara untuk memikat manusia akan suatu hal. Setiap perusahaan mulai mencari
content creator, copywriter, seo specialist, atau bahkan sampai membuka
kesempatan bekerja secara remote. Ya, penemuan baru tersebut ternyata
bisa memangkas upah pegawainya dengan tidak mempekerjakan secara full-time
dan remote. Uang transport dan uang makan sudah tidak menjadi
beban bagi perusahaan.
Konten digital apapun platform-nya
dan jenisnya menjadi hal yang wajib dikembangkan. Youtube, Instagram, Tiktok
adalah sebagian wadah yang dipakai perusahaan untuk memancing pelanggannya. Alhasil,
bermodalkan video yang berbeda, artikel yang relevan, atau uniknya informasi
dikemas lewat tiktok menjadi primadona. Tidak hanya perusahaan besar, bahkan
individu-individu yang dikenal konvensional (offline) lambat laun mencoba
membranding diri dengan membuat konten online.
Jujur, hal ini juga dialami oleh
saya sendiri. sebelumnya memang saya ada ketertarikan dalam hal konten media
sosial. Diantaranya adalah vlog atau tulisan-tulisan. Pada dasarnya, saya ingin
sekali membuat vlog seperti Arief Muhammad atau podcast ala-ala Om Deddy
Corbuzier. Tetapi karena belum sempat baik dari segala situasi dan kondisi,
maka yang bisa dijalankan sementara adalah konten yang berbentuk tulisan.
Kenapa tulisan? Ya, karena saya juga tertarik pada dunia sastra dan
kepenulisan.
Secara tidak sadar, pilihan untuk
kuliah pada jurusan Bahasa adalah salah satu tanda bahwa saya adalah tim
Bahasa, bukan hitungan. IQ saya rebahan kalau disuruh ngitung. Hehe.
Ketertarikan itu secara tidak sadar sebetulnya sudah saya punyai dari dulu
ketika masih SMA. Waktu itu ketika pembelajaran Bahasa Indonesia, sering sekali
saya menikmati untuk membaca karya-karya novel roman picisan yang entah siapa
penerbitnya. Lupa. Satu novel bisa dilumat semalam. Novel yang say abaca waktu
itu memang ringan. Semua bisa terbawa alunan melodi ceritanya. Tetapi kegiatan
itu belum saya sadari sebagai passion. Sekedar suka pada momennya saja
waktu itu.
Seperti kerinduan pasangan yang
harus dilepaskan, maka pemikiran juga harus mempunyai wadahnya. Ekspresi dari
kesadaran itu adalah menuangkan beberapa pemikiran ke dalam puisi, cerpen, kata-kata
atau bahkan review buku di Instagram pribadi saya. Tanpa canggung sama sekali.
Mungkin beberapa teman saya ada yang ilfeel atau menganggap saya mencari
perhatian. Tetapi hal itu sama sekali tidak saya jadikan beban. Tidak ada yang
bisa menahan lelaki yang tengah menemukan passionnya setelah sekian purnama
terpendam.
Kemudian, seperti pengagum
rahasia, akhirnya saya menyadari bahwa membaca dan menulis adalah hal yang
menurut saya menyenangkan. Selain tidak ada bakat lain yang saya miliki,
kesadaran akan membaca dan menulis ternyata membuka hati dan cakrawala saya.
Tak pernah terpikirkan, bahwa ternyata ada buku yang bisa membuat saya jatuh
cinta pada membaca. Ternyata, cerita kehidupan saya seolah menemukan belahan jiwanya
ketika bisa ditulis dan dibagikan kepada sesama.
“Hanya ada satu buku untuk
membuatmu jatuh cinta pada membaca”, begitulah kata Najwa Shihab.
“Menulis seperti buah kelapa di
bibir pantai yang jatuh terbawa arus laut dan kemudian bisa tumbuh di daerah
lain dan memberinya manfaat”, kalau itu kata Tere Liye.
Dan masih banyak pesan bagus
lainnya dari banyak penulis atau tokoh di negeri ini tentang membaca dan
menulis.
Buku yang membuat saya jatuh
cinta pada membaca adalah karya Laila S. Chudori tentang Laut Bercerita-nya.
Cantik itu Luka dari Eka Kurniawan. Dan satu sajak yang mendayu milik Joko
Pinurbo dengan malam ini aku tidur di kelopak matamu. Beberapa buku tersebut
adalah terbitan dari Gramedia Pustaka Utama.
Tidak terpikirkan sebelumnya,
bahwa sebuah buku novel yang referensinya dari peristiwa Mei 1998 saat turunnya
Presiden Soeharo bisa mengaduk-aduk perasaan saya. Penulis, Laila S. Chudori,
piawai sekali dalam membawakan cerita yang alurnya naik turun. Pembaca akan
dijunjung tinggi dengan cerita penuh bahagia kemudian boom!, seketika
langsung dijatuhkan dengan alur yang penuh tragedi. Tentunya sejarah tentang
Mei 1998 waktu itu masih terpaku dalam di beberapa orang. Cerita tentang
kehilangan yang sebenarnya dalam proses reformasi Indonesia sampai kini masih
bisa dirasakan daya magisnya kepada mereka yang peka terhadap keadaan.
Bahkan saya sendiri memiliki
pengalaman yang begitu menakjubkan dibumbui sedikit aroma magis dari peristiwa
Mei 1998. Awalnya saya tidak pernah berniat untuk membeli buku ini. Hanya lewat
rekomendasi yang saya baca melalui sebuah komentar tentang buku ini di suatu
akun literasi Instagram. Sesegera mungkin, saya mencoba untuk mencarinya di marketplace
orange dan klik, bukupun secepat kilat sudah masuk list pengiriman.
Beberapa hari kemudian, buku
datang dan sedikit aku coba cicipi beberapa kalimat. Dan saya pun terbawa,
tidak seperti novel yang lain, novel ini ringan tetapi tiba-tiba membuat
pembaca seperti memikul beban dan tanggung jawab besar. Akhirnya, saya selesai
untuk membaca novel tersebut setelah dibuat mabuk sebab alur yang berubah-ubah.
Rasanya seperti naik roller-coaster yang begitu memicu adrenalin.
Buku Laut Bercerita saya
selesaikan tepat pada tanggal 21 Mei 2020. Tepat dua puluh dua tahun yang lalu,
peristiwa besar lengsernya presiden Soeharto juga terjadi. Hal ini tentunya
tanpa rencana, proses membaca mengalir saja ditengah sibuknya WFH. Dan yang
lebih terasa menggetarkan jiwa, hujan deras mengiringi selesainya saya membaca
waktu itu. Seperti air laut yang menyampaikan jeritan dan pesannya kepada
penerus bangsa. Angin kencang juga menyisipi lubang-lubang ventilasi rumah dan
meraba sekujur kulit, dinginnya yang jelas terasa berbeda. Seolah mereka yang
hilang sedang berbagi kedinginan yang selama ini dialami sendiri tanpa
kehangatan keluarga.
Lewat rangkaian kisah yang
ditulis oleh Laila S. Chudori, saya mendapat pembelajaran berarti. Bagaimana
sebuah buku atau cerita bisa menggugah semangat sekaligus simpati kita terhadap
sejarah bangsa. Selanjutnya, pengaruh itu lah yang kemudian membuat saya
semakin berhasrat untuk menuangkan karya lewat tulisan-tulisan berdasarkan
pengalaman saya yang mungkin akan berguna bagi para pembaca. Mungkin, belum
menimbulkan angin besar seperti Laut Bercerita. Tetapi, saya yakin sedikit demi
sedikit akan memberikan manfaat atau minimal gambaran bagaimana sebagian dalam
semesta ini bekerja.
Selanjutnya, Cantik Itu Luka
karya Eka Kurniawan juga mempunyai pengaruh bagi saya. Kalau Laut Bercerita
mengarah ke sisi pengalaman membaca. Kali ini, Cantik Itu Luka memiliki peran
untuk menyampaikan ke pembaca bahwa sastra itu bebas. Dari buku tersebut, cara
Eka Kurniawan membuat peristiwa-peristiwa baik yang nyata maupun mistis juga
berbeda.
Beliau berani menyampaikan
sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda. Beliau seolah ingin membuktikan
bahwa semuanya tidak harus mengikuti pakem yang ada. Lewat buku tersebut, Eka
Kurniawan menggambarkan banyak sudut pandang baru akan suatu kejadian. Sebagai
contoh, meninggalnya Dewi Ayu, salah satu tokoh perempuan dalam buku itu, yang
dikenal sebagai pelacur sepanjang hidupnya. Kini dia berbicara bahwa ketika dia
sudah mati, dia bukan lah seorang pelacur lagi karena mati adalah seperti
tahapan baru dalam perjalanan manusia.
Keberanian Eka Kurniawan tersebut
yang membuat saya sadar bahwa jangan takut untuk menuangkan suatu karya dengan
persepsi yang berbeda.
Buku terakhir selama adaptasi
baru adalah CADL karya Triskaidekaman. Triskaidekaman adalah nama pena penulis
dari buku ini. Nama asli penulisnya adalah Henny Triskaidekaman. Ya, novel ini
adalah novel yang tidak memakai huruf E satupun. Adapun tidak adanya huruf E
juga bisa dijadikan oleh Ibu Henny menjadi bahan cerita. Huruf E dilarang dalam
sebuah aturan negara bernama Wiranacita yang dipimpin oleh Raja yang bernama
Zaliman. Tentunya hal ini membuat penasaran pembaca akan latar belakang
peraturan tersebut.
Buku ini sekali lagi menjadi
salah satu buku yang menjadi contoh tentang tidak terbatasnya ide untuk
melahirkan suatu buku yang berbeda tetapi tetap menuai banyak pesan didalamnya.
Hal yang saya pelajari dari tidak dipakainya huruf E adalah banyak kosakata
baru pengganti kata yang mengandung huruf E. Luar biasa. saya tidak bisa
membayangkan bagaimana Ibu Henny melakukan riset dan penemuan-penemuan baru
akan diksi.
Teknis tidak sembarangan yang
disajikan oleh Triskaidekaman ini memberi pesan bahwa selain imajinasi, penulis
haruslah tetap menguasai wawasan atau pengetahuan yang baik. Hal ini pasti akan
berpengaruh dengan kualitas buku. Para penulis pasti ingin karyanya tidak hanya
menghadirkan cerita yang penuh imajinasi tetapi juga tetap memberikan wawasan
atau pengetahuan sebagai bahan belajar buat para pembaca. Saya pikir itulah hal
terbaik yang ingin disampaikan oleh Triskaidekaman melalui buku-bukunya.
Jadi buku-buku yang saya sebutkan
diatas adalah beberapa buku yang menemani saya dalam beradaptasi di tengah
pandemi yang belum terlihat sampai kapan selesainya. Bahkan informasi terbaru,
kita disungguhi betapa hebatnya covid-19 menghantam India. Negara yang bisa
dikatakan sebelas dua belas dengan Indonesia dari segi jumlah penduduk maupun
budayanya. Kita baiknya do’akan saja semoga India berangsur pulih dan bisa
melalui masa suramnya. Itulah yang kita bisa lakukan sebagai manusia.
Kembali lagi, buku-buku tersebut
yang memotivasi saya dalam membuat tulisan yang bagus. Mungkin masih terlalu
jauh untuk dibilang bagus karena saya pribadi masih perlu banyak berlatih dan
menyadari kekurangan tulisan-tulisan saya.
Hal yang paling penting adalah
bagaimana buku tersebut bisa menjadi motivasi saya untuk membuat dan membagikan
tulisan lewat media sosial. Selain untuk berbagi, berkarya lewat konten
berdasarkan minat tentu bisa menjadi adaptasi baru untuk keberadaan saya
kedepannya. Pandemi sekali lagi membuat
digitalisasi terasa nyata ditengah-tengah kehidupan manusia sekarang ini.
Dengan adanya batasan bergerak secara fisik, pandemi seolah mendukung gelombang
digitalisasi dimana kita bisa berkomunikasi, berkarya, dan bekerja tanpa batas.
Seorang bebas untuk membangun kantor sendiri, bermodalkan internet, seorang content
creator bisa menawarkan jasa keahliannya langsung kepada pelanggan dari
lokal sampai mancanegara.
Mungkin bagi generasi baby
boomer, generasi angkatan kakek, nenek, bapak, ibu kawan-kawan disini, akan
begitu berusaha untuk beradaptasi dengan digitalisasi. Banyak yang belum paham
alurnya. Hal ini terlihat dari kehebohan yang akhir-akhir ini tentang kasus babi
ngepet di Depok yang viral. Salah satu ibu salah sangka dengan menuduh tetangganya
yang tidak ngapa-ngapain tapi kaya sebagai orang yang dicurigai menjalankan
praktek pesugihan babi ngepet tersebut. Dan akhirnya hal itu terbukti salah karena
babi ngepet itu pun hasil dari rekaan semata. Padahal, di era sekarang ini,
kita tidak asing dengan namanya crypto (mata uang virtual), investasi saham, freelance
content creator, trader, dll. Semua itu memungkinkan orang menjadi
kaya hanya dari atas tempat tidurnya.
Contoh nyata yang lain adalah
bagaimana banyak pekerja layar televisi yang beralih menjaga eksistensi atau
bahkan pendapatan lewat youtube. Televisi mungkin adalah salah satu media yang
sangat membutuhkan penonton untuk mendukung kemeriahan, finansial atau bahkan
eksistensi banyak selebritis didalamnya. Dengan dibatasi kerumunan, otomatis
hal ini sangat berpengaruh terhadap “keramaian” televisi sendiri yang memaksa
para selebritis untuk membuat panggungnya sendiri lewat beberapa platform
digital, salah satunya Youtube.
Dari gambaran diatas, kita bisa
melihat perubahan nyata kemajuan teknologi ditengah pandemi ini. Saya pribadi,
selama pandemi, banyak sudah perubahan yang dilakukan, terutama yang berkaitan
dengan pekerjaan saya. Online Interview, online test, online
meeting, semua serba daring. Hal ini tentu memberikan efektivitas. Apalagi
perusahaan saya waktu itu mempunyai banyak cabang. Jika sebelumnya saya
diharuskan ke kota-kota untuk melaksankan tugas, sekarang waktu dan jarak itu
bisa dipangkas dengan adanya zoom. Semua kegiatan lewat video conference. Hemat
biaya operasional. Tak mengherankan jika banyak perusahaan yang beralih untuk
online dalam beberapa posisi atau menjadikan banyak posisi tersebut dijalankan
oleh satu atau orang saja.
Pada lain sisi, digitalisasi
tentunya bukan hal yang sempurna bagi peradaban manusia. Tidak adanya kontak
langsung manusia akan berakibat pada berkurangnya kepekaan antar sesama. Dimana
hal ini harusnya dipupuk sejak dini bagi anak-anak lewat sekolah atau pergaulan
lingkungan sekitar. Kita sadar, bahwa banyak anak-anak golongan pelajar yang
jenuh akan adanya pembelajaran jarak jauh. Walaupun generasi muda ini dikenal
dengan generasi zombie yang pikirannya selalu terpaut dengan layar gadget,
tetapi mereka juga merasakan kekosongan dengan tanpa adanya sentuhan langsung
oleh para guru.
Disini, manusia tetaplah manusia.
Manusia adalah makhluk sosial. Sosial adalah kita menjalin komunikasi, kontak
langsung, dan terpadu rasa simpati dan empati didalamnya. Manusia bukanlah
robot yang tidak mempunyai hati. Manusia seperti bunga yang harus disirami demi
keindahannya. Manusia juga harus dibesarkan dengan rasa sayang dan kepedulian
yang menurut saya hanya bisa disampaikan langsung lewat kontak langsung atau
aktifitas-aktifitas sosial yang bermanfaat. Dengan begitulah, matahari cinta
akan dipancarkan dan kemanusiaan akan bersemi indah bagi kehidupan dan generasi
selanjutnya.

Komentar
Posting Komentar