Lampu Merah
Dengan tertunduk lesu, berat saraf pikiran dan kaku urat pundak
Termenung dan khawatir. Resah.. apa yang bisa dilakukan
dalam jalan kedepan?
Seolah dunia tidak merangkul, kepada insan yang mengidamkan
kebaikan hati
Terkadang indah lukisan kebaikan hati, juga menyisakan bercak-bercak kekecewaan
Sore itu, perjalanan terasa hampa..
Suara kendaraan tidak bisa merasuk menghangatkan hati..
Dari kejauhan, lampu merah baru menyala yang berarti aku
harus bersiap berhenti
Apalah ini?
Biarkan aku berjalan saja tanpa henti
Berjalan sampai aku tiba di tempat yang ku nanti
Hela nafas pendek dan dengusan diakhiri dengan senyap mesin
berhenti,
Mencoba sabar menunggu lampu hijau sebagai simbol kelegaan
emosi
Hela nafas Panjang disambut dengan pandangan mata ini ke
sekitar
Tidak berbeda, semua sama, lelah dan pikiran hitam putih
dibawah pas lampu yang berwarna merah, hijau, dan kuning itu
Di tengah trotoar,
Aku melihat seorang laki-laki, dengan rambut yang tentu
tidak rapi
Laki-laki berdiri dengan tegap tapi tak berpondasi
Matanya lebar tapi tatapannya kosong
Dibawah guyuran hujan, mata itu berbicara seakan kalau bisa
aku tidak mau seperti ini
Jika bisa memilih mungkin dia ingin duduk tenang dan
berkumpul dengan keluarga, seseorang yang menggambarkan bagaimana hidup yang
kurang berarti
Kaosnya lusuh, kali ini aku melihatnya berdiri. Beberapa
hari lalu aku melihatnya tidur di trotoar pinggir jalan, tanpa alas atau lambaran.
Dua kali sudah aku melihanya, tapi dia tidak memelas, kalau
biasanya orang berpura-pura melas tapi dia seperti tulus memelas
Kenapa dia tidak meminta-minta? Kenapa diam saja? Apakah dia
masih memikirkan harga diri?
Apakah dia mencoba mencari warna hidup dari lampu merah
untuk melupakan hidupnya yang tidak berwarna lagi?
Aku sanksi, apakah harapan hidupnya sudah tiada lagi? Apakah
dia tidak ingin berharap pada manusia lagi? Apakah dia juga representasi dari
tawakal yang sejati?
Seseorang itu seolah mengguyur mencuci semua bercak kegaluan
lepas dari tubuh ini
Betapa kuat jiwanya akan masalah yang dihadapi
Laki-laki itu seperti kaca yang akan abadi,
Kenapa diri ini masih selalu meratapi, hanya karena
keresahan yang tak mesti di sesali
Padahal masih banyak yang bisa disyukuri.
Kepada lampu merah yang niatnya baik saja aku masih salah
persepsi,
Tanpanya aku mungkin tidak akan refleksi diri,
Tanpanya aku mungkin belum sadar kalau masih banyak dari
diri ini yang bisa dihargai..

Komentar
Posting Komentar