Self-Reward Untuk Gaji Yang Pas-Pasan, Gimana Biar Tetap Puas?
Galau sering kali tidak hanya dirasakan oleh orang yang sedang patah hati atau gagal dalam meraih prestasi saja. Kadang dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan dalam keadaan dilema besar. Apalagi jika hal tersebut berkaitan dengan keuangan. Biasanya, kita sering bingung dalam membeli barang yang diinginkan.
Apalagi jika yang terserang kegalauan ini adalah anak muda yang masih baru mekarnya dalam merintis karir. Gaji masih pas-pasan buat kehidupan satu bulan kedepan, dikurangi buat nabung. Oh iya, tidak lupa sisihkan juga buat orang tua. Eh tapi, jangan lupa beli barang idaman buat self-reward atau apresiasi diri juga sebagai penghibur dari tekanan pekerjaan.
Keharusan membeli barang idaman tentunya tidak akan menjadi masalah berarti bagi mereka yang sudah biasa untuk hidup sederhana sedari kecil. Tetapi apabila kita hidup di lingkungan perkotaan, gengsi tentunya menjadi lagu wajib yang harus ditaati, seperti sneakers bermerek, handphone atau gadget dengan teknologi up-to-date, branded fashion baik dari dalam maupun luar negeri, dan tetek bengek lainnya.
Hal ini sah-sah saja sih bagi mereka yang bisa mengatur keuangan walau gaji KKM (Kriteria Kebutuhan Minimum) atau punya pemasukan diatas kata cukup. Lalu untuk yang pemasukannya KKM bagaimana kita harus menentukan keputusan krusial ini. Apakah beli barang menuruti gengsi? Apakah beli mahal dengan kualitas bagus? Atau beli yang ekonomis aja toh sama aja fungsinya?
Dikutip dari idntimes.com, “self-reward adalah langkah kecil untuk membuatmu bahagia dengan cara yang positif.” Jadi pertama, mengapresiasi diri tentunya sangat dibolehkan ya selagi itu masih dalam batas wajar dan sesuai kemampuan kantong. Jangan berpikir semakin banyak atau mahal self-reward akan semakin positif. Harga suatu barang atau produk tentunya tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan. Alih-alih beli barang mahal tetapi kebutuhan lupa untuk diperhatikan. Percuma kalau pakai sneakers Jordan limited edition tetapi tanggal tua bingung cari pinjaman uang hanya untuk perkara makan. Bukan bermaksud merendahkan orang yang kesulitan makan, tetapi disini keadaannya orang yang sebetulnya secara kebutuhan cukup tetapi menggadaikan uangnya untuk hal yang kurang perlu.
Nah, dalam mewujudkan self-reward ini sering kali kita dihadapkan dengan berbagai pilihan agar keduanya seimbang. Barang idaman bisa dibeli, urusan berbakti kepada orang tua dan logistik pun berjalan aman. Haruskah membeli barang branded untuk kita pakai?
Menurut saya, sebuah barang dikatakan branded pastinya selalu dikenal dan terbukti mempunyai kelebihan. Apabila itu tentang fashion, barang branded selalu dikenal dengan desain yang otentik dan bagus. Tentunya barang branded itu nyaman ketika dipakai dan bisa jadi kuat dan tahan lama. Apabila barang itu berkaitan dengan elektronik, pastinya produsen dari barang elektronik yang terkenal bagus itu juga mempunyai kelebihan seperti barang yang tidak cepat rusak, memberikan kemudahan kepada pemakainya atau menyediakan layanan purnajual yang totalitas terhadap konsumen.
Bagi anak muda sekarang ini, pakaian dengan brand ternama dan ponsel atau gadget keluaran terbaru sering menjadi pilihan utama untuk dihadiahkan kepada diri sendiri. Tidak jarang banyak yang sabar menabung agar mereka bisa membeli pakaian dengan merek yang diidamkan atau mempunyai prestige sendiri. Brand fashion ternama memang sudah seperti simbol gaya hidup seperti yang ingin mereka tampilkan. Tetapi tak jarang juga ada yang membeli pakaian bermerek tersebut karena memang bagus kualitasnya. Pakaian bermerek tentunya bagus bahannya, tidak mudah luntur warnanya, awet dan tidak mudah rusak. Selain itu, kemajuan teknologi sekarang ini juga tidak luput dari perburuan anak muda sekarang. Banjirnya produk-produk handphone baru masuk ke Indonesia tentunya sangat berpengaruh terhadap pilihan orang-orang untuk selalu meng-upgrade alat komunikasi tersebut. Kita seakan harus selalu menuruti perkembangan teknologi dan dengan mudah melupakan apa esensi dari handphone itu sendiri. Tetapi ada juga yang selalu update handphone karena itu memang mendukung aktifitasnya bekerja yang sering berhubungan dengan teknologi-teknologi terbaru dan sebagainya.
Lalu, bagaimana cara untuk bisa menyesuaikan self-reward bagus dengan anggaran yang sudah dibuat pas-pasan? Berikut ini adalah beberapa gambaran untuk memaksimalkan uang yang pas-pasan dengan barang yang tidak mengecewakan dalam hal alat komunikasi dan sepatu.
Untuk memutuskan membeli sebuah handphone atau barang elektronik yang lain sebagai self reward tentunya kita memilih produk yang menjamin akan kualitas barangnya. Kita tidak akan tau apa yang akan terjadi pada handphone kita kedepannya, tiba-tiba mati, speaker yang tidak berbunyi, atau ada kendala yang bisa menganggu komunikasi atau akses hiburan kita lewat handphone tersebut. Hal-hal seperti itu tentunya akan menjadi hal yang sedikit menjengkelkan. Apabila ada garansi yang bagus dan pelayanan yang baik dan cepat tentu hal itu bisa menjadi peredam kejengkelan kita. Pembeli akan dipuaskan dengan pelayanannya karena mereka diberikan dengan kepastian bahwa uang yang mungkin sudah lama ditabung tidak akan ditukar dengan barang yang rentan rusak, terlebih jika garansi servisnya tidak cepat. Mengingat begitu pentingnya handphone yang kita pakai karena untuk komunikasi, maka perbaikan yang cepat tentunya akan menjadi pujian dari pembeli dan akan menjadi kebaikan yang selalu diingat oleh pembeli.
Kalau kita mengambil contoh lain seperti si Adi berikut ini. Adi adalah seseorang yang suka bergerak entah untuk pekerjaan sehari-harinya atau untuk berolahraga untuk menjaga kebugarannya. Dia tentunya membutuhkan perlengkapan yang bisa menunjang aktivitasnya secara maksimal, contohnya Sepatu. Sepatu dengan tingkat kenyamanan dan tahan lama yang bagus tentunya akan sangat mendukung Adi. Dalam hal ini, sepatu seperti menjadi senjata wajib bagi Adi yang tidak bisa dipisahkan.
Bagaimana jika sepatu Adi rusak? Manakah sisi yang akan dipilih? Apakah Adi akan memilih sisi ekonomis dengan kualitas biasa atau sisi mahal dengan kualitas sepatu yang tidak diragukan lagi?
Karena Adi adalah seorang yang sangat membutuhkan barang berkualitas untuk mendukung aktifitasnya. maka Adi tidak akan canggung untuk membeli sepatu yang agak mahal tetapi bisa menjanjikan kualitas yang sebanding. Selain itu, dukungan sepatu yang bagus tentunya akan memberikan motivasi lebih bagi Adi untuk bisa berbuat atau bahkan berkarya lebih.
Jika sebuah sepatu standar akan membuat Adi berlari tiga kali putaran lapangan. Dengan sepatu yang bagus dan mempunyai outsole dan insole yang sangat nyaman, tentunya akan membuat Adi bersemangat. Mungkin sekarang dia bisa berlari memutari lapangan dua kali lipatnya, enam kali. Itulah salah satu contoh penyesuaian antara gengsi, keuangan dan implementasi yang positif.
Adi sadar betul dimana dia harus menempatkan gengsi, uang, dan output yang positif pada saat menginginkan barang. Dalam kata lain, tidak masalah bagi kita untuk membeli barang mahal dengan kualitas bagus asal hal itu memberikan dampak positif bahkan mendukung potensi terbaik kita. Akan jadi boomerang jika kita mengetahui potensi kita tetapi tidak didukung oleh saran dan prasarana. Alih-alih untuk menghemat, jika Adi memilih sepatu dengan standar biasa saja malah akan mengurangi motivasinya karena sepatu itu bisa jadi cepat rusal, tidak nyaman dan tidak sesuai harapan dan malah akan membuat Adi kecewa dan menyesal membelinya.
Dari gambaran diatas, tentunya bisa juga diterapkan untuk barang-barang yang lain sesuai keinginan masing-masing orang. Rumah, mobil, travelling pastinya akan sangat berarti jika kita bisa menempatkannya di posisi yang tepat. Boleh jadi rumah sederhana tapi ada kiosnya akan sangat berarti jika kita bisa memanfaatkannya untuk berjualan juga. Mobil keluarga yang bisa juga untuk angkut-angkut barang tentunya akan mendukung apabila kita punya usaha. Travelling akan sangat berarti jika tempat yang kita kunjungi menghadirkan nilai-nilai historis atau travelling ke tempat yang bisa menghibur keluarga tentunya akan memberikan kepuasan batin bagi kita sendiri. dan masih banyak hal-hal lainnya.
Kembali lagi nih. Pasti teman-teman pernah mengalaminya bukan? Memilih untuk membeli barang yang lebih murah tetapi kualitasnya tidak sesuai harapan. Padahal jika tambah sedikit saja karena selisih yang tidak jauh, kita akan memperoleh barang dengan kualitas yang lebih bagus. Niatnya ingin menghadiahi diri sendiri dan menghilangkan stress. Kini malah bertambah stress karena menyesal akan barang yang dibeli. Apalagi besoknya hari Senin, duh tambah kalut sekali itu pikiran.
Jadi menurut saya, berdasarkan gambaran dari kasus Adi, tidak apa apabila melakukan self-reward dengan membeli barang yang mahal tapi pastikan kalau barang itu benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat bagi diri sendiri. Yang kurang tepat adalah jika kita membeli barang mahal yang sebetulnya belum kita butuhkan melainkan hanya menuruti gengsi semata. Hal ini tentunya masih sedikit memberi angin bagi kamu ketika di tengah gurun pasir, tetapi tidak memberimu air yang cukup untuk menghilangkan kering tenggorokan. Dengan kata lain, ketika kita membeli barang atas nama gengsi tentu hal itu akan menghibur secara singkat, tapi mengorbankan kebutuhan kita yang lain apabila pendapatan kita masih tergolong dalam kategori KKM (Kriteria Kebutuhan Minimum). Akhirnya, uang yang awalnya dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari jadi ikut dirampas haknya buat menambah biaya gengsi kita.
Adapun tips lain untuk bisa mendapatkan barang bagus dengan uang yang lebih sedikit tentunya bisa dilakukan dengan cara survey terlebih dahulu varian merek barang yang akan dibeli. Barang dengan kualitas bagus tidak hanya berasal dari luar negeri saja. Banyak barang buatan negeri sendiri yang tidak kalah dengan barang impor. Dalam hal fashion, Indonesia sudah melahirkan banyak brand kenamaan. Untuk bidang outdoor, ada Eiger yang tidak kalah kualitasnya dengan si Wajah Utara. Dalam hal, sneakers atau sepatu olahraga, ada Piero, Legas, Specs, yang tidak kalah bagusnya dengan tanda centang dari Amerika atau tiga garis dari Jerman. Dan masih banyak lagi produk buatan negeri yang mempunyai kualitas dunia yang tidak bisa saya sebutkan sendiri-sendiri disini karena jika teman-teman mencari reviewnya di google tentu saja hal ini sudah banyak dibahas, tinggal teman-teman pelajari dan tentukan sendiri akan dijatuhkan kemana pilihan itu.
Bahkan, kita pernah mengetahui bola yang dipakai untuk kejuaran piala dunia beberapa tahun silam adalah buatan dari Majalengka, ada yang dari Jawa Tengah. Jersey klub sepak bola terkenal dari Manchester yang identik dengan warna merah, yang pendukungnya juga banyak di negeri ini termasuk saya ini (padahal kalah terus), mempercayakan urusan kenyamanan pakaian ketika pemain berkeringat ke pabrik tanda centang yang ada di Indonesia waktu itu, karena bahan baku terbagus bisa jadi dari negeri ini. Hal ini saya dapatkan dari video Pandji Pragiwaksono di channel Youtubenya yang berjudul “Kerja Vs Karya”. Pandji menceritakan ketika dia tour ke Manchester United dan ketika dia melihat bahwa jersey yang dijual oleh official store Manchester United adalah made in Indonesia. Dia bingung, langsung ditanyakan oleh Pandji, “kenapa produk yang dijual di situ adalah made in Indonesia?”. Dan jawaban dari store managernya adalah “karena kami di Old Trafford hanya bersedia menjual produk berkualitas nomor satu di dunia”. Luar biasa bukan. Begitu kurang lebihnya.
Dari beberapa contoh diatas tentulah menandakan bahwa produk buatan dalam negeri sendiri bisa bersaing dan mempunyai kualitas bagus dibandingkan dengan produk lainnya. Hal ini akan menjadikan keuntungan tersendiri bagi teman-teman yang mau melakukan survey terlebih dahulu terhadap kualitas produk-produk di Indonesia dan memberikan pilihan baru apabila teman-teman menginginkan produk dengan kualitas bagus dan harga yang lebih terjangkau. Terlebih banyak produk-produk lokal baru yang sudah bisa mencuri perhatian publik akhir-akhir ini. Bagaimana ramainya yang antri untuk membeli produk sepatu lokal dengan merek compass yang harga resellnya bisa mencapai dua sampai tiga kali lipat dari harga tokonya. Itu sebagai salah satu bahwa produk dalam negeri ini menunjukan taji bahwa mereka juga siap untuk bersaing dengan produk dari luar sana.
Pada akhirnya, berikut adalah beberapa cara untuk bisa menyesuaikan budget dengan self-reward yang sesuai harapan ketika awal bulan. Pertama, teman-teman harus pastikan bahwa barang yang akan dibeli sebagai self-reward adalah barang yang betul-betul dibutuhkan dan justru akan memberikan manfaat yang positif apabila teman-teman mamakainya, bukan barang yang gengsinya aja besar tetapi sesungguhnya tidak betul-betul dibutuhkan. Kedua, pilihan barang dari brand bagus tetapi harga bersahabat semakin bertambah seiring dengan majunya industry kreatif di negeri ini. Disini teman-teman bisa menfaatkan kanal sosial baik Youtube, Instagram atau forum Facebook dan lain-lain untuk meng-update diri sendiri akan pengetahuan akan barang-barang dari dalam negeri bagus dengan harga ramah kantong yang bisa dijadikan rekomendasi untuk awal bulan depan hehe. Bagaimana teman-teman? Sepertinya sudah tidak sabar ya untuk self-reward bulan depan dengan jalan yang efisien tetapi memuaskan.

Komentar
Posting Komentar