Review Buku Laut Bercerita ; Sejarah yang Terulang Sampai ke Pembaca
Review Buku Laut Bercerita ; Sejarah yang Terulang Sampai ke Pembaca.
Dinihari 21 Mei 2020 pukul 02.30 WIB, ditengah guyuran hujan, karena terbawa cerita, saya selesai membaca novel “Laut Bercerita” karya Leila S. Chudori : 2017. Ada beberapa kisah yang ingin saya tuangkan dalam bentuk cerita singkat dan apa adanya. Ketika menyelesaikan novel ini ada beberapa hal yang saya rasa aneh atau lebih tepatnya seperti alam sudah mengatur ini semua. Rasanya seperti Laut juga menyampaikan pesannya dari butir² air yang dibawa lewat awan dan jatuh dalam bentuk teduh dan riuhnya hujan.
Pertama, dalam membaca buku saya memilih insting dan naluri saya untuk bekerja memilih buku apa yang akan dibaca. Buku ini saya pilih secara acak, mungkin sedikit dipengaruhi sampul yang menarik, berwarna biru. Hehe.. Tanpa mempelajari secara jauh isinya sebelum saya baca. Dan, tidak terpikir sekalipun kalau mata dan pikiran ini akan dipertemukan dengan cerita tentang kisah aktivis peristiwa Mei ’98.
Ya. Seperti sudah ditebak. Mulai dibukanya halaman si pembaca pasti akan terbawa oleh arus ombak kata-kata, gelombang emosi, dan deburan pesan yang ada didalamnya. Dan akhirnya setelah beberapa hari saya tiba diujung halaman buku ini pada tanggal 21 Mei 2020 tanpa disengaja. Hanya mengikuti waktu mempersilahkan untuk diri ini Kembali lagi didekap untuk menyempatkan diri membaca lagi setelah banyaknya aktivitas sehari-hari. Dan selesainya pembacaan buku ini, 21 Mei 2020 adalah tepat 22 tahun sesudah hari mundurnya Bapak Soeharto dari kursi presiden pada 21 Mei ‘98. Dan, Tuhan lagi-lagi menunjukan daya magisnya atas kebetulan ini.
Kedua, kisah tokoh yang diceritakan seolah masuk dalam kehidupan saya. Kisah dua tokoh kakak beradik yang lengkap. Kakak laki-laki dan adik perempuan seolah seperti kehidupan saya pribadi di dunia nyata. Atas kebetulan ini, pasti melahirkan sikap atau cara baru bagaimana saya akan merawat saudara saya dan keluarga juga tentunya. Biru Laut dan Asmara Jati yang saling menyanyangi dengan caranya sendiri. Mungkin itu secara pribadi. Tapi untuk teman-teman pasti tetap akan mendapatkan sentuhan tersebut. Karena pada hakikatnya, semua orang punya saudara dan semua orang punya keluarga.
Buku ini terasa seperti anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Bukan apa, prinsip mensyukuri apa yang sudah Tuhan diberikan karena pasti ada pesan atau manfaat didalamnya seperti ditebalkan ketika kita sudah berusaha dan yakin akan pemberian-Nya pasti kita akan ditunjukan jalan. Alur cerita novel ini didasarkan atas kesaksian para aktivis yang “selamat” dan narasumber terpercaya. Terlepas dari itu, terkait kebenaran alur cerita rincinya tentunya biar pembaca yang menentukan masing-masing karena balik lagi ini adalah sebuah novel.
Disamping itu, membahas tentang kebenaran dibalik peristiwa Mei ’98 adalah sebuah pencarian yang panjang yang bahkan sampai saat ini belum menemui titik terang. Tetapi masih ada secercah harapan, seruan dari keluarga atau aktivis masih tetap berjalan, di depan Istana Presiden berwujud aksi Kamisan. Semoga Tuhan selalu menguatkan bagi mereka yang kehilangan.
Terakhir, terima kasih untuk Ibu @leilachudori , sang penulis “Laut Bercerita” yang sudah membuat salah satu buku yang sangat berkesan bagi saya pribadi. Dari alur cerita yang seolah membawa kita pada emosi yang berubah-ubah dalam sekejap, pesan moral tentang keluarga, dan perjuangan yang tidak pernah sia-sia. Mungkin benar kata mbak Najwa Shihab bahwa “cuma perlu satu buku untuk buat kita jatuh cinta pada membaca”. Ya, dan saya sudah menemukan buku itu dan mungkin akan mencari buku-buku lainnya. Bukan maksud menggurui karena saya juga baru akhir-akhir ini aktif membaca lagi hehe.. Tapi mungkin tidak apa daripada tidak. Setidaknya kita sudah mulai membaca, setidaknya kita sudah membuka pikiran kita, setidaknya kita menanamkan kembali budaya yang bisa meredam diri untuk mencaci, memaki dan menganggap benar sendiri.


Komentar
Posting Komentar