Tahun Baru Itu Hanya Pergantian Angka


Tidak terasa sudah 2022 saja, rasanya kok lebih dekat ke tahun 2010 dibandingkan 2025. Sudah sepuluh tahun sudah aku menuliskan resolusi agar bisa menjadi lebih baik di tahun-tahun berikutnya. Entah siapa juga sih yang mulai memikirkan rencana daftar perubahan itu. Tapi ya wajar, setiap permulaan angka baru pastilah terselip harapan-harapan baru yang siapa tau juga terwujud.

Tapi aku penasaran, btw.

Dari sekian banyaknya manusia yang menuliskan resolusi di tiap tahunnya, berapakah yang berhasil menjalankannya?

Apakah banyak? Adakah lima puluh persennya? Atau sedikit seperti yang aku lihat di postingan-postingan atau tweet-tweet itu? Ya tentang kegagalan resolusinya itu setelah jalan sebulan, dua minggu, atau malah baru tiga hari sudah kembali lagi ke setelan pabrik. Sayangnya banyak juga yang mengiyakan, hihi.

Lucu.

Dan itu termasuk aku.

Sejak itu, sejak dari SMA itu, sejak tahun 2010, aku mulai mengenal jika manusia itu mempunyai niat baik setiap tahunnya di malam tanggal 31 Desember. Berharap ini, berharap itu. Ingin ini, ingin itu. Sama seperti yang lain, sejak saat itu, setiap pergantian tahun aku mencoba meniatkan diri agar menjadi lebih baik. Seperti contohnya, sholat yang semakin rajin atau semakin giat untuk belajar. Maklum, pikiran anak SMA masihlah takut dengan tugas atau nilai rapot yang tak tuntas. Sesimple itu.

Tapi, resolusi itu nampaknya menguap seiring berjalannya waktu. Main sana, main sini. Nongkrong sana, nongkrong sini. Alhasil, males. Mending main aja deh daripada belajar. Toh, nongkrong juga belajar, bukan? Belajar bersosialisasi, gitu lho.

Skip dari tahun ke tahun. Dari 2011 - 2021 kemarin. Resolusi itu selalu ada di penghujung 365 hari. Bedanya, semakin kesini resolusi itu semakin senyap saja. Tidak semenggebu dulu yang kadang bisa dibuat dengan monumental tertentu. 

Oh, tentu saja bukan. Bukan karena tidak berani bermimpi atau berharap sesuatu. Saya sadar, tahun-tahun lalu adalah fase saya belajar dan menemui banyak salah. Kesalahan terbesar itu adalah kesalahan tidak memanfaatkan waktu.

Butuh waktu sepuluh tahun sudah bagi saya menyadari kerugian itu.  Tapi tidak apa. Jangankan sepuluh tahun, belajar itu sepanjang waktu.

Sekarang? Tahun 2022 apa yang bisa diharapkan?

Tentu saja. Saya tidak akan munafiq kalau pasti ada yang namanya rencana atau apalah itu, resolusi kalau kata orang bilang. Cuma sekarang, saya mungkin lebih pandai untuk mensiasati janji terhadap diri sendiri itu. Ya, setiap tahun saja mengikrarkan janji, dan setiap tahun juga saya mengingkari janji. Janji terhadap diri sendiri atas nama resolusi itu.

Fix. Kali ini saya tidak mau janji-janji. Berjalan saja tapi tetap menjadi lebih baik. Aku tak mau terus menerus mengingkari diri sendiri. Biar saja berjalan sendiri, tanpa wishlist yang muluk-muluk, tanpa resolusi. 

Tujuanku hanyalah mempunyai kebiasaan yang berdasarkan kebutuhan diri. Contohnya : jogging bukan karena pengen kurus tapi memang ingin sehat, sholat bukan karena aturan tapi karena kebutuhan, menulis bukan karena uang tapi karena karunia.


Komentar

Postingan Populer