Membuktikan Adanya Rezeki Menikah dan Rezeki Anak
“Rezeki orang mau menikah itu. Wah, rezeki orang mau punya anak.”
Bagi orang yang sudah beranjak dewasa, kata-kata seperti itu
tadi pastilah sangat sering didengar. Tetapi, apakah benar orang-orang yang mau
menikah atau setelah menikah itu rejekinya akan dilancarkan?
Di sisi lain, saya pernah di-tag oleh seorang teman pada sebuah konten dari akun Instagram @jakarta.keras. Isi dari konten tersebut mempertanyakan dengan gamblang anggapan tersebut.
Jika menikah itu membuka pintu rezeki, kenapa masih banyak
orang yang cerai setelah menikah karena masalah ekonomi?
Lalu, bagaimana tanggapan saya? Jujur, saya tidak menanggapi
postingan tersebut. Saya rasa, untuk menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan
penjelasan yang panjang. Tapi sepertinya kurang kalau hanya penjelasan secara
kata-kata saja. Nampaknya, pengalaman juga dibutuhkan untuk mendukung kuat
landasan teorinya.
Berbicara tentang pengalaman akan rezeki orang yang mau dan sudah
menikah. Kali ini saya mencoba membedah ‘kepercayaan’ tersebut dengan
pengalaman yang saya alami sendiri.
Kalau boleh cerita, saya sekarang berusia 26 tahun. Saya baru
saja menikah pada awal bulan Juni tahun 2021 kemarin. Kurang lebih sudah enam
bulan berjalan bahtera rumah tangga kami. Memang, umur pernikahan kami mungkin
baru seumur jagung atau bahkan seumur laron yang muncul di sela-sela Maghrib
dan Isya’. Masih sebentar atau bahkan belum teruji secara standar nasional
keharmonisan rumah tangga.
Namun, perjuangan saya saat pra-nikah termasuk ‘high-risk’
jika diibaratkan investasi saham. Jika orang lain memutuskan menikah karena
sudah siap secara papan dan pangan. Saya sebaliknya. Bahkan, untuk urusan
pemasukan bulananpun saya belum punya kepastian.
Begini maksud saya, rencana pernikahan kami memang sudah
dipersiapkan jauh-jauh waktu. Bulan April 2020, saya memutuskan untuk mengikrarkan
keseriusan kepada calon istri saya pada ikatan pertunangan. Otomatis, selama
waktu satu tahun kedepan harusnya tanggal pernikahan harus sudah ditetapkan.
Dan teng..!
Tanggal pernikahan sudah ditetapkan. 6 Juni 2021, waktu yang
ditetapkan secara mantap oleh kedua keluarga. Tetapi diawal tahun 2021, saya
dilanda kegalauan akan masalah karir yang sedang dijalani. Waktu itu saya
sedang bekerja di perusahaan start-up pendidikan. Tetapi sayangnya,
perusahaan kami terdampak karena pandemi Covid-19. Perusahaan tidak bisa
beroperasi secara normal. Banyak karyawan kami yang terpaksa harus dirumahkan.
Sampai awal tahun 2021, perusahaan mencoba bangkit. Tapi dewi fortuna belum
juga muncul. Pandemi belum juga berakhir. Hal ini semakin menahan roda
pergerakan perusahaan kami.
Hal itu membuat saya membaca kondisi kedepannya. Menurut
saya, karena satu dan dua hal, bisa saja nasib saya berubah, terlebih untuk
urusan ekonomi. Akhirnya, saya putuskan untuk resign pada akhir Februari
2021 dan mencari pijakan baru yang bisa membuat saya aman dalam segi finansial
sebelum pernikahan. Jujur, saya khawatir jika setelah saya menikah justru saya
harus dipaksa nganggur karena keadaan.
Saya putuskan untuk mempertaruhkan nasib saya empat bulan
sebelum pernikahan untuk mendapat pekerjaan baru. Saya sadar, mungkin ini
adalah hal ternekat yang pernah saya lakukan. Tetapi kalau hati sudah mantap,
mau dikatakan apalagi.
Walaupun nekat, tapi saya tidak bodoh. Saya sudah membekali
diri dengan uang tabungan selama saya bekerja. Kalau sesuatu darurat terjadi,
setidaknya saya punya pegangan untuk tidak hilang kendali. Setidaknya selain untuk
modal dekorasi, seserahan, dan lain-lain, saya sisihkan sedikit disitu uang
operasional untuk membeli amplop coklat, photocopy, dan uang bensin. Ya,
starter-pack para pencaker.
Pertaruhan dimulai sejak awal Maret tahun 2021 dan deadline-nya
awal Juni 2021. Selang waktu tersebut, tiap pagi saya masukan lamaran ke
berbagai perusahaan dan instansi. Selama masuk kriteria gas saja kirim lamaran
baik online maupun offline, bahkan kalau ada yang tidak sesuai tapi
saya tertarik, ya terobos saja. Berbagai undangan macam interview dan tes saya
hadiri. Alhasil, pertengahan Maret 2021 saya diterima kerja di sebuah
perusahaan ekspedisi.
Tidak terlalu lama memang, tapi perjuangan tidak sampai
disitu pemirsa…
Dengan berbagai pertimbangan, saya putuskan tidak untuk
melanjutkan pekerjaan baru tadi setelah satu hari menjalani masa percobaan.
Saya baru tahu, kerja di bidang ekspedisi itu menguras waktu dan tenaga. Belum
lagi adanya sistem kerja shift, itu termasuk hal yang bukan saya banget.
Memang, selama ini saya belum pernah bekerja dengan sistem shift.
Mungkin sayalah yang idealis. Iya, saya yang terlalu idealis sampai saat waktu
genting saja saya masih berharap mendapatkan pekerjaan yang menurut saya cocok.
Masih pilah-pilih.
Detik demi detik berjalan. Ibaratnya, hitungan mundur itu
terus bergerak, semakin dekat saja dengan bom waktu pernikahan. Sebetulnya saya
masih dipenuhi rasa optimis untuk dapat memotong kabel merah sebelum bom
meledak. Walau terkadang, terlintas pikiran bagaimana jika waktu pernikahan
tiba saya juga belum mendapatkan pekerjaan juga. Kalau mertua, sanak saudara,
teman bertanya, mau jawab seperti apa.
“Hehe, ini masih menjalankan usaha.” Mau dijawab seperti itu?
Sebagai jawaban diplomatis biar dikira pengusaha padahal sedang usaha mencari
kerjaan. Bisa saja sih, tapi hati dan harga diri saya sebagai lelaki tidak bisa
dibohongi. Saya akan malu pada diri saya sendiri. Bukankah syarat menikah
adalah mampu menafkahi? Haduh..
Resah, gundah, dan khawatir terus menghantui batin saya. Deg-degan,
awal Mei 2021 saya belum juga mendapatkan pekerjaan. Bahkan, saya sampai
bersumpah kalau ada saja satu saja pekerjaan yang diberikan akan saya terima
tanpa pikir panjang lagi. Lebih baik ada pekerjaan dulu, deh. Daripada
tenggelam dikubur rasa malu. Asal halal, ngapain saja saya mau.
Kalau dibayangkan saat itu, perasaan saya sudah tidak karuan.
Saya rela kalau harus menelan ludah bernama idealis itu. Terlebih, kalau di
lihat, undangan interview yang saya terima bukanlah dari perusahaan atau
instansi yang saya harapkan. Rasanya saya harus bekerja atas dasar yang penting
ada saja. Demi menyelamatkan harga diri dan martabat keluarga, pekerjaan apa
saja akan saya lakukan.
“Huh, Bismillah. Gusti, tolongi aku,” memelas hati saya
setiap saat.
Tanpa diduga, H-30 pernikahan, 6 Mei 2021, saya mendapatkan
undangan pekerjaan dari sebuah perusahaan IT. Lucunya, saya lupa kalau pernah
mengirimkan lamaran ke perusahaan tersebut. Bukan karena apa, sudah satu bulan
berlalu saya mengirim lamaran ke perusahaan tersebut. Pikir saya, HRD disana
tidak melirik lamaran saya atau sudah dilihat tapi tidak tertarik. Jadi skip
saja. Tapi ternyata, kalau sudah rezeki memang tidak akan kemana.
Sesi interview berjalan dengan lancar. Angin segar mulai berhembus.
Kecocokan HRD terhadap diri saya bisa saya rasakan. Proses akhir, interview
user juga berjalan mulus. Direktur perusahaan merasa cocok dengan saya karena
satu dan dua hal. Alhamdulillah, tanggal 17 Mei 2021 saya diminta untuk mulai
bekerja. Hanya beberapa minggu sebelum hari pernikahan itu dihelat. Hah,
rasanya mau sujud syukur ala Asnawi Mangkualam dkk. setelah cetak gol.
Beruntungnya, pekerjaan baru yang saya dapatkan ini sesuai
dengan pekerjaan saya sebelumnya, bagian SDM. Saya mempunyai minat di bidang
ini. Disini saya sadar, Tuhan memang selalu memberikan hal lebih daripada apa
yang kamu harapkan. Ketika saya sudah pasrah mendapat pekerjaan yang tidak saya
sukai atau malah tidak mendapatkan pekerjaan. Tuhan memberikan plot-twist
yang tak terduga. Disinilah, saya ditunjukan bagaimana rezeki orang yang mau
menikah itu bekerja sampai ke pemiliknya.
Kemudian, bagaimana untuk rezeki setelah menikah?
Setelah menikah, keseharian saya seperti layaknya orang lain.
Bekerja dan melakukan tanggung jawab sebagai suami. Yang berbeda, kali ini saya
mencoba untuk melanjutkan kesukaan yang sedikit terlambat saya sadari. Hal itu
adalah menulis.
Ya, sebelum menikah atau selama dua tahun terakhir ini saya suka
menuliskan beberapa ide-ide atau pikiran saya ke dalam bentuk puisi atau
artikel. Tulisan-tulisan itu saya tuangkan pada blog pribadi, Instagram, atau
saya biarkan mengendap di file Ms. Word dan disimpan entah buat apa. Tiba suatu
waktu saya tahu bahwa kita bisa menjadi kontributor tulisan pada beberapa
media.
Dalam mengirimkan tulisan ke berbagai media tentunya tidaklah
mudah untuk bisa dimuat. Saya sadar tulisan saya masih banyak kesalahan dan acak-acakan.
Tak heran, jika banyak artikel yang saya kirim tidak dimuat atau tidak
mendapatkan respon dari media tersebut. Hal ini berlangsung selama sebelum
menikah. Sampai tiba waktunya, karena beruntung atau apa. Akhirnya untuk
pertama kali, ada satu artikel saya yang dimuat oleh Mojok.co dalam rubrik
konter tentang review handphone Xiaomi Redmi Note 4 saya pada tanggal 10
September 2021.
Horee, betapa senangnya hati ini.
Kalau dirasakan, rasanya seperti sekian lama menyatakan cinta
dan selalu ditolak, akhirnya ada yang menerima juga. Dan setelah dipikir-pikir,
kenapa hal ini terjadi setelah sudah menikah? Ah, mungkin cuma kebetulan. Tapi
tidak, sesuatu tidak terjadi karena kebetulan. Semua ada sutradaranya. Jika
saja ada orang bercerita bahwa ada beberapa potongan-potongan kayu yang terbawa
arus sungai atau angin kemudian bertemu dan menjadi perahu dengan sendirinya,
pastilah banyak orang yang tidak percaya, bukan?
Selain itu, ada lagi bukti dari istri saya. Dia adalah
partisipan aktif tes CPNS tiap tahunnya. Tahun lalu dia gagal sampai nangis
sejadi-jadinya setelah tes selesai. Ya, memang segila itulah harapan orang akan
CPNS. Waktu itu kami belum menikah. Padahal tes sudah sampai tahap tes akhir,
SKB (Seleksi Kompetensi Bidang). Tinggal selangkah lagi. Jika ditanya, usaha
belajarnya sudah maksimal. Belum ada tanggungan dan masih memiliki semangat
muda seperti R.A. Kartini. Tapi sepertinya belum waktunya untuk lolos tes CPNS
2020 kala itu.
Lalu, bagaimana tahun ini? Puji Syukur. Dia berhasil lolos
tes CPNS 2021 dengan selisih skor unggul 0,44 dari pesaing terdekatnya. Itu selisih
yang mepet. Padahal kondisi terakhir waktu tes SKB, dia sedang mengandung calon
anak pertama kami yang jalan umur 6 bulan. Kondisinya pasti beda dibandingkan ketika
masih lajang. Sekarang, hari-harinya diselingi keluhan-keluhan yang dialami
orang hamil yang bisa merubah mood-nya untuk belajar. Tetapi dengan beban
seperti itu, dia malah lolos tes CPNS 2021. Kalau dipikir, lagi-lagi seperti
ada yang mengatur atau aturan itu memang benar adanya. Bahwa, rezeki orang mau
menikah atau sudah menikah itu bukan isapan jempol belaka.
Dalam agama saya, Islam. Aturan rezeki memang sudah tersurat dalam
Al-Qur’an. Rezeki menikah, Al-Qur’an surat An-Nur ayat 32 sementara rezeki anak
tertuang pada surat Al-Isra’ ayat 31. Dan masih banyak lagi firman yang
membahas atau bahkan menjamin tentang rezeki. Tetapi walaupun sudah dijamin,
kita tidak serta merta hanya mengandalkan ayat itu saja. Tetap harus ada
ikhtiar dan komitmen dibalik tawakal. Mungkin banyak yang menganggap
‘keberhasilan-keberhasilan’ tadi itu adalah rezeki orang mau menikah atau
rezeki anak.
Padahal tidak banyak orang tahu, sebelum mendapatkan
pekerjaan baru, ada kaki yang melangkah kesana kemari dibawah panas hujan atau keresahan
menunggu kabar kelanjutan rekrutmen. Dibalik dimuatnya artikel, ada satu waktu
pagi dan malam yang disempatkan untuk mengolah ide dan kata yang sering kali
ditolak sia-sia. Dibalik lolosnya tes CPNS, ada istri yang belajar pagi, siang
dan malam melawan rasa kantuk dan sakit yang dialami orang hamil pada umumnya.
Semua tetap ada perjuangan dan keikhlasan dalam menjalaninya.
Oh iya, perihal pertanyaan di salah satu postingan Instagram
yang saya singgung diawal tadi. Ada komentar yang menarik dari salah satu
netizen. Dia menulis, “karena rezeki tidak selalu berupa uang, tapi ekonomi
udah pasti soal uang.” Saya dan istri sepakat. Menurut kami, harap bedakan
antara ekonomi dan rezeki. Ekonomi adalah matematika manusia. Terbatas.
Sedangkan rezeki adalah matematika Tuhan yang berbeda cara hitungannya. Luas.

Komentar
Posting Komentar