Setelah Sembilan Bulan

Delapan belas bulan dibagi menjadi dua. Sembilan bulan dalam kandungan dan sembilan bulan setelah dilahirkan, Nasya adalah laut kecil namun mempunyai gelombang yang bisa dikatakan dinamis.

Walaupun kecil, gelombang yang diciptakan kadang lengang, kecil, dan tak jarang pula besar. Akibat gelombang-gelombang tadi, sering kali waktu dan tenaga saya dan istri saya dikuras untuk memecahnya. Apalagi kalau Nasya menghadirkan gelombang besar yang bisa memporak-porandakan pikiran dan hati orang tuanya. Entah itu sakit, kurang nafsu makan, kurang tidur, bahkan sampai "mogok susu".

Drama-drama yang sering kali membuat saya tidak sempat untuk memanfaatkan waktu dan pikiran untuk mengerjakan sesuatu yang lain. Contohnya, mungkin karena sedang repotnya mengurus Nasya saat weekend, atau saat pikiran sedang cemas-cemasnya memikirkannya, maka diary bulanan "Setelah 7 bulan" dan "Setelah 8 bulan" tidak terdokumentasikan.

"Setelah 7 bulan" mungkin terukir dalam bentuk lain. Bentuknya adalah tasyakuran Nasya 7 bulan yang kami panjatkan dengan membagikan bubur merah putih ke para tetangga. Otomatis, waktu untuk "Setelah 7 Bulan" tergadaikan ke acara tersebut. Sedangkan "Setelah 8 bulan" saya lupa kenapa sandungannya, sepertinya sakit atau kami yang sedang sibuk-sibuknya karena fokus memikirkan persiapan Bundanya Nasya dalam mengikuti suatu kewajiban akan pekerjaannya. Tak apalah demi kelancaran bersama.

Akhirnya, sampai juga di "Setelah 9 Bulan". Seperti yang sempat kami singgung, 9 bulan dibumbui pedas dengan adanya gerakan "mogok susu" yang diinisiasi oleh Nasya. Suatu anomali yang membuat saya dan istri tak cukup menggeleng kepala, bahkan sampai meneteskan air mata dan mengais do'a.

Bagaimana tidak?

Awam kami, bayi seumur Nasya masihlah identik dengan susu. Bayi itu ya susu. Susu itu ya bayi. Begitulah kira-kira. Tetapi, satu minggu kemarin sangatlah berbeda. Tak hanya tidak mau, Nasya menjelang 9 bulan seperti trauma akan botol susunya. Sesuatu yang biasanya menjadi 'lullaby' dalam mengantarkannya ke alam mimpi indah, kini berubah seperti mimpi buruk. Jangankan meminumnya melihat barang mungil itu saja dirinya sudah nangis tak karuan. Ditambah, absennya aktivitas 'ngedot' membuatnya sulit tidur. Alhasil, rewel dulu sebelum bisa memejamkan matanya. Tangisan yang tentunya membuat kami tidak tega melihatnya.

Jujur saya, mungkin kesalahan ada di pihak kami karena kami sempat mengganti susu Nasya yang dimana rasa dan teksturnya berbeda. Awal perubahan susu, Nasya masih bisa menerima dan mau minum. Tapi tanda-tanda ketidakcocokan itu sebetulnya sudah dirasakan oleh Ibu Nasya, yaitu tidak pernah habis. Tidak seperti susu sebelumnya. Seperti bom waktu, Nasya tahu dan jalan seminggu kurang lebih, Nasya menggugat. Dia mendeklarasikan perang dengan susu yang tidak cocok lagi. Hal yang berakibat apapun yang berhubungan dengan susu seperti botol dan warna putih ikut menjadi musuhnya. War !!!

Khawatir, cemas, dan gelisah. Itulah perasaan yang kami rasakan. Perasaan yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Bahkan kami sudah melakukan tele-consulting dengan dokter anak secara online. Ya, sebetulnya tidak masalah selama makannya lahap. Memang, selama mogok susu itu, Nasya makannya lahap. Tapi saya bahkan istri saya belum bisa menerimanya.

Berbekal kesabaran, istri saya pelan-pelan akhirnya bisa mengembalikan keajaiban sang peri botol ke Nasya. Susu yang menjadi musuh Nasya akhirnya kami singkirkan. Kami mencoba memberikan Nasya susu kesukaannya kembali. Walaupun bertahap, tidak langsung mau karena sudah kepalang marah. Dia sempat menolak walau susu yang diberikan adalah kesukaannya. 

Dimulai dari memberinya susu waktu sudah ngantuk dan terpejam karena tidak melihat warna dan bentuknya. Terus, mengurangi takaran susu agar rasanya mirip air putih. Sampai mengganti botol agar tidak dikenalinya. Kesabaran membuahkan hasil. Dimulai dari dibukanya kembali hati Nasya dengan mau memegang botolnya kembali. Momen yang dimanfaatkan oleh istri saya untuk bisa menyisipkan susu ke mulutnya di saat-saat tepat, seperti saat mau tidur atau capek setelah bermain. Bak mencapai kata damai, Nasya akhirnya tidak takut lagi dengan botol dan sudah bisa 'mengedot' lagi. Dia sudah bisa tidur dengan 'ngedot', tanpa rewel lagi.

Itulah drama setelah 9 bulan. Kami tahu, pikirannya semakin berkembang seiring bertambah umurnya. Nasya sudah mulai punya pilihan sendiri,  kemauannya sudah banyak. Terbaru, Nasya sudah mengerti rasanya jalan dengan dititah. Hal yang  beberapa bulan kedepan akan familiar kami lakukan. Hal yang mungkin kami anggap sebagai olahraga yang tak menjadikan kurus. Hal yang akan membuatnya bisa berjalan dan bermain sendiri. Hal yang mungkin memajukan namun juga menyedihkan. Kalau sudah bisa jalan, tetap mau digendong kan, nak? Mau, ya..

Ayok, Sya. Apapun itu. Sehat dan tambah pinter.

Komentar

Postingan Populer