Setelah Sebelas Bulan
Sebelas Januari bertemu..
Menjalani kisah cinta ini..
Naluri berkata engkaulah..
Milikku..
Sepenggal lagu yang selalu terngiang pada pikiran saya jika mendengar kata-kata sebelas. Pun begitu yang terlintas ketika saya ingin menuliskan seri "Setelah ... Bulan".
Yaps, sudah 11 bulan ini, saya menjadi Ayah, dan sudah 11 bulan ini, Nasya hadir menemani hari-hariku.
Sepertinya menjelang 1 tahun ini, saya mulai menjadi dewasa dalam menjalani 'peran' sebagai orang tua. Indikasinya ada pada beberapa hal. Pertama, ketika Nasya sakit, utamanya batuk dan pilek, saya sudah tidak terlalu panik. Lalu, ketika Nasya tidak mau minum susu, saya sudah tidak terlalu panik. Ketika Nasya kepalanya terbentur dinding karena bermain, saya tidak overthinking lagi.
Dulu, ketika pertama kali Nasya bapil parah saya tidak tega. Kami akhirnya memutuskan memeriksakan dia ke RS dekat rumah. Padahal hanya bapil ya. Kalau kita ya tanpa minum obat malah sembuh sendiri. Jangankan dibiarkan, saya lho kadang ada prinsip kalau pilek ya minumnya es agar tambah meler. Nantang.
Ujung-ujungnya, ketika Nasya bapil lagi ya diobati seperti pada umumnya. Kalaupun diperiksa ke dokter pun untuk pencegahan saja, bahwa bukan sakit yang lainnya. Itupun masih dapat komentar dari dokter yang bilang, "Anak pertama, ya?". Ya, betul sih, dan kita menyadari se-ovt itu kami menjadi orang tua.
Hal baiknya, Nasya sekarang tidak rewel apabila dia sedang sakit bapil. Seperti biasa, dia masih aktif bermain. Jalan sana-sini menuruti rasa penasarannya. Setidaknya, dengan tingkah laku itu, kita tidak dibuat kepikiran. Berbeda kalau rewel, segala cara dilakukan.
Puncaknya ketika khayalan itu datang,
"Kok kita tidak punya teman yang dokter anak, ya?".
"Lhoh, bundamu itu anak kesehatan, Sya."
Kemudian, tidak mau minum Susu. Anak ini saya rasa sensitif pada rasa. Idealis kalau urusan makan dan minum. Dia mewarisi entah banyak atau sedikit bagaimana picky-nya Ayahnga bab makan. Kalau tidak suka, ya tidak suka terus dan cari yg lain.
Masalahnya, ya tidak sampai ke mogok minum susu juga, Sya. Sebetulnya dia masih mau pada satu dua kali waktu. Tak menentu pokoknya. Tergantung mood. Nah, ini yang membuat saya dan istri cemas memikirkannya. Untungnya, makannya masih terhitung lahap. Air putih juga mau. Sepertinya dia bosan susu yang rasanya begitu-begitu aja. Beda cerita kalau dikasih susu segar Boyolali rasa coklat, sepertinya dia akan suka.
Penolakan susu itu adalah kedua kalinya. Dulu, waktu umur 7 bulan, hal itu juga pernah terjadi. Tapi bisa diatasi dan mau rujuk kembali dengan botolnya. Untuk yang kedua ini, ya mungkin sedikit sabar dalam mengatasinya. Mungkin memang sedang tidak mau susu, maunya makan. Okelah, kita turuti, Sya. Asal makan banyak terus, ya..
Sekarang, kadang Nasya mau minum susu sekali dua kali. Tidak sering, walau kata dokter itu yang lebih baik. Susu cukup 1-2 kali saja. Asupan pertama itu dari makanan berat. Tapi sebetulnya, kami masih berharap untuk mau ngedot lagi, Sya. Itu lho, biar kaya temenmu yang lain. Begitu itu kalau anak umur 11 bulan, kalau minum air putih itu orang gede diet ngurangin gula (tapi makannya nasi padang).
Selanjutnya, untuk masalah terbentur dinding, saya rasa tulang kepalanya sudah cukup kuat. Memang, ketika itu terjadi, dia pasti merengek kesakitan. Namun, tidak lama. Toh, itulah konsekuensi dari tingkahnya yang bermain, merambat di tembok misalnya. Misal dalam sehari dia 50 kali merambat tembok, pastilah ada 1% kemungkinan dia kejedot.
Rasanya mulai sekarang, saya harus mulai mengajarinya apa itu sakit. Membiarkannya, agar dia tau bagaimana cara bangkit dari jatuh. Mengajarinya, menahan rasa sakit. Dan, membuatnya mengerti bahwa setiap laku pasti ada resikonya. Kalau ketemu resiko, berarti harus tau tanggungjawabnya.
Lalu saya sadar, selain saya yang belajar dewasa menjadi orang tua. Nasya pastilah juga belajar lebih dewasa menjadi seorang anak. Apalagi di umurnya yang mau menginjak 1 tahun. Sedikit demi sedikit, dia mulai mempunyai kemauannya sendiri. Lambat laun, dia akan mengatasi masalah-masalah kecilnya sendiri.
Kuatlah, nak. Kuat.. Ketika kau tumbuh besar nanti, sebagai seorang anak pertama dan perempuan. Mungkin, kau akan menemui berbagai tantangan menjadi seorang perempuan dewasa zaman sekarang. Perempuan di tengah banyaknya anggapan bahwa lelakilah yang lebih superior. Lelaki yang bisa mengerjakan hal-hal tertentu. Perempuan itu cukup ini itu aja.
Jangan takut, sya. Jangan malu. Kalau kamu pingin pakai baju bola, ya pakai saja. Kalau mau pakai baju Batman, pakai saja. Kalau kamu mau berlatih Karate, Ayok.. Ayah antar. Sampai kamu tahu bagaimana harusnya fitrah dan batasan perempuan yang sebenarnya.

Komentar
Posting Komentar