Setelah 12 Bulan : Nasya dan Piala Liga



Heel-to-heel flick
yang dilakukan Marcus Rashford pada menit ke 39 saat Manchester United berhasil menambah keunggulan atas Newcastle United di Final Piala Liga adalah hal yang tidak biasa.

Sebab, teknik tersebut dilakukan di udara, bukan di dataran rumput. Hal spesial dalam memulai build up serangan untuk membobol lawan adalah suatu bagian yang tidak akan dilupakan. 

Entah disengaja atau secara kebetulan saja, Marcus Rashford berhasil mendaratkan bola dengan mulus sampai ke kaki penyerang lain Manchester United, yaitu Wout Weghorst. Dengan sedikit dribble, Weghorst yang melihat Rashford berlari menusuk pertahanan Newcastle, langsung melepas umpan trobosan kepadanya. Setelah itu, semua tahu apa yang terjadi. The goal killed the game!

Manchester United berhasil unggul dengan selisih dua angka sampai peluit akhir dibunyikan. Supporter 'The Red Devils' yang datang ke Old Trafford bersorak gembira. Pun dengan penonton yang hanya menyaksikan lewat layar kaca. Bukan piala yang presticious memang. Namun salah satu silverware yang bisa melengkapi atau setidaknya mengobati sejenak dahaga sejak 6 tahun lamanya.

Dua hal yang tidak biasa dalam satu angka

Dalam satu hari itu, 26 Februari 2023, sebelum Final Piala Liga, hal luar biasa juga terjadi di rumah saya. Memang berbeda konteksnya dengan assist yang dilakukan oleh MR10.

Tepat hari itu, Nasya, anak perempuan saya, mencatatkan sejarah hidupnya. Dia sudah beranjak 1 tahun. Saya tidak merasakan semakin cepatnya waktu berjalan, namun saya merasakan bahwa setiap waktu terasa sangat berharga untuk dijalankan. Sangat berharga karena setiap detik dan menit, saya dan mungkin istri saya sekarang harus menikmati dan mensyukuri setiap perkembangan yang Nasya lakukan.

Untuk 1 tahun ini, saya rasa batasan tingkahnya saya cukupkan di bagian-bagian seperti anak 1 tahun pada umumnya. Dia yang tiba-tiba sakit, tidak mau makan, tidak mau minum susu, atau beberapa hal lain yang cukup mengejutkan namun masih dalam batas wajar.

Yang jelas, mungkin, kami sudah tidak kaget lagi dengan tingkahnya. Kami menyadari, setelah menginjak 1 tahun, dia akan segera bisa menemukan kemauannya sendiri lalu mengekspresikannya dengan cara yang entah seperti apa nanti bentuknya. Kami sudah siap, tingkahnya kedepan pastilah akan 'luar biasa' sebagai seorang bocah.

Piala Liga dan lahirnya Nasya

Entah kebetulan apa tidak, pada 26 Februari 2023, Manchester United seperti memberi kado indah untuk merayakan 1 tahunnya Nasya. Keberhasilan Manchester Merah untuk melahirkan kembali trofi bagi publik Old Trafford seperti milestone untuk trofi-trofi berikutnya.

Begitupun dengan Nasya,  1 tahun ini mungkin akan menjadi umur pijakan untuk menyambut langkah-langkah selanjutnya. Dia yang mungkin akan bisa bermain sendiri, mempunyai pilihan sendiri, atau bagaimana cara menempatkan posisi sebagai anak diantara kami. Menarik untuk ditunggu.

Membatasi Euforia

Faktanya, setelah pesta juara yang digelar di Wembley, Manchester United mungkin sedikit jemawa akan kemajuan tim dibawah Erik ten Hag. Padahal, setelah Final Piala Liga, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tim ini tentu jauh dari kata sempurna. Bagaimana bisa tim yang sedang dalam performa bagus dan menjuarai liga bisa dilumat habis oleh Liverpool dengan skor 7-0 tanpa balas di lanjutan laga liga.

Terlena, ditambah dengan yang katanya kelelahan mungkin faktornya. Erik ten Hag dan manajemen harus duduk bersama. Refleksi dan bekerja lebih keras lagi.

Tidak jauh berbeda dengan Nasya, momen 1 tahun ini semoga tidak membuat kami terbawa suasana. Faktanya, kedepan masih banyak hal sudah menunggu bagi kami selaku orang tua. Banyak tugas dan tanggung jawab yang harus diemban. Nasya dan Piala Liga, sama-sama simbol sebagai permulaan. Nasya dan Piala Liga, sama-sama menandai bahwa perjalanan masih panjang.

 


 

Komentar

Postingan Populer